Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner
Faktor risiko kejadian PJK dibagi menjadi 2, diantaranya risiko yang tidak dapat diubah dan risiko yang dapat diubah.
Risiko yang Tidak Dapat Diubah
- Umur
Risiko penyakit jantung dan pembuluh meningkat pada usia di atas 55 tahun untuk laki-laki dan di atas 65 tahun untuk wanita. Wanita juga memiliki risiko tinggi jika memasuki masa menopause. - Jenis kelamin
Jenis kelamin laki-laki mempunyai risiko penyakit jantung dan pembuluh darah lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Namun, berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan wanita memiliki faktor risiko spesifik untuk lebih berisiko terkena PJK diantaranya gangguan hipertensi kehamilan (hipertensi gestasional, pre-eklampsia, dan eklampsia), diabetes gestasional, kelahiran prematur, dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). - Riwayat Keluarga
Adanya riwayat keluarga dekat yang terkena penyakit jantung dan pembuluh darah meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dua kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak memiliki riwayat keluarga.
Risiko yang Dapat Diubah
- Hipertensi
Risiko penyakit jantung dan pembuluh darah meningkat sejalan dengan peningkatan tekanan darah. Hasil penelitian Framingham menunjukkan bahwa tekanan darah sistolik 130-139 mmHg dan tekanan diastolik 85-89 mmHg akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah sebesar 2 kali dibandingkan dengan tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg. Hipertensi merupakan penyebab tersering penyakit jantung koroner dan stroke, serta faktor utama dalam gagal jantung kongestif. Studi yang ada menyebutkan bahwa risiko gagal jantung kongestif meningkat sebesar 6 kali pada pasien dengan hipertensi. - Merokok
Risiko penyakit jantung koroner pada perokok 2-4 kali lebih besar daripada yang bukan perokok. Kandungan zat racun dalam rokok antara lain tar, nikotin dan karbon monoksida. Rokok akan menyebabkan penurunan kadar oksigen ke jantung, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, penurunan kadar kolesterol-HDL ("kolesterol baik"), peningkatan penggumpalan darah, dan kerusakan endotel pembuluh darah koroner. - Diabetes Mellitus
Diabetes Melitus (DM) adalah kumpulan gejala akibat peningkatan kadar gula darah (glukosa) akibat kekurangan hormon insulin baik absolut maupun relatif. Gejala khas DM antara lain poliuria (sering buang air kecil), polidipsi (banyak minum), polifagia (banyak makan), dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas. Gejala tidak khas DM, antara lain kesemutan, gatal di daerah kemaluan, keputihan, infeksi yang sulit sembuh, bisul yang hilang timbul, penglihatan kabur, cepat lelah, mudah mengantuk, gangguan ereksi, dan lain-lain. - Dislipidemia/Kolesterol (Metabolisme Lemak yang Abnormal)
Menurunkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, maka nilai kolesterol total plasma harus <190 mg/dL dan Low Density Lipoprotein (LDL) <115 mg/dL. Pada pasien dengan DM atau pasien asimptomatik dengan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, maka target kadar kolesterol total darah harus <175 mg/dL dan LDL <100 mg/dL. Kadar High Density Lipoprotein (HDL) <40 mg/dL pada laki-laki dan <45 mg/dL pada perempuan, serta kadar trigliserida puasa >150 mg/dL akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. - Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai peningkatan berat badan lebih dari 20% berat badan normal atau Indeks Masa Tubuh (IMT), yaitu suatu angka yang didapat dari hasil berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat. Berat badan normal bila IMT antara 18,5-25,0 Kg/m². Berat Badan Lebih (Gemuk) bila IMT > 25-27 Kg/m² dan Obesitas bila IMT>27 Kg/m².
Fakta menunjukkan bahwa distribusi lemak tubuh berperan penting dalam peningkatan faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Penumpukan lemak di bagian sentral tubuh akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Lingkar perut ≥ 90 cm untuk laki-laki dan ≥ 80 cm untuk wanita (Obesitas Sentral) akan meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. - Kurang Aktivitas Fisik
Beberapa studi menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan penyakit jantung dan pembuluh darah. Aktivitas fisik akan memperbaiki sistem kerja jantung dan pembuluh darah dengan meningkatkan efisiensi kerja jantung, mengurangi keluhan nyeri dada/angina pektoris, melebarkan pembuluh darah, membuat kolateral atau jalan baru bila sudah ada penyempitan pembuluh darah koroner, mencegah timbulnya penggumpalan darah, meningkatkan kemampuan tubuh termasuk meningkatkan kemampuan seksual, dan meningkatkan kesegaran jasmani.
Dianjurkan melakukan latihan fisik (olahraga) minimal 30 menit setiap hari selama 3-4 hari dalam seminggu (istirahat selang sehari), sehingga tercapai hasil yang maksimal. Setelah latihan 4-6 minggu, kemampuan fisik meningkat sebesar 30-33%, dan hasil yang optimal akan dicapai setelah latihan fisik 6 bulan. - Pola Makan
Perubahan pola makan menjurus ke sajian siap santap yang tidak sehat dan tidak seimbang, karena mengandung kalori, lemak, protein, dan garam tinggi, tetapi rendah serat pangan (dietary fiber). Jenis makanan ini membawa konsekuensi terhadap perubahan status gizi menuju gizi lebih (kelebihan berat badan tingkat ringan atau berat badan lebih/gemuk, yaitu IMT > 25-27 Kg/m²) dan Obesitas (kelebihan berat badan tingkat berat, yaitu IMT >27 Kg/m²) yang memicu berkembangnya penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, khususnya penyakit jantung koroner. - Stres
Stres adalah reaksi tubuh berupa serangkaian respons yang bertujuan untuk mengurangi dampak. Stresor adalah pengalaman traumatik yang luar biasa yang dapat meliputi ancaman serius terhadap keamanan atau integritas fisik dari individu atau orang-orang yang dicintainya (misalnya bencana alam katastrofik, kecelakaan, peperangan, serangan tindakan kriminal, perkosaan), atau perubahan mendadak yang tidak biasa dan perubahan yang mengancam kedudukan sosial dan/atau jaringan relasi dari yang bersangkutan, seperti kedukaan yang bertubi-tubi atau kebakaran. Risiko terjadinya gangguan ini makin bertambah apabila ada kelelahan fisik atau faktor organik lain, misalnya usia lanjut.
Sumber:
https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic/apa-saja-faktor-risiko-penyakit-jantung-koroner-pjk